Ini Pesona serta Cerita Sejarah Gunung Lawu yang Tidak sering Diketahui

mountains, birds, silhouette

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Gunung Lawu yang diketahui mistis itu, secara administratif terletak di 2 provinsi serta 3 kabupaten. Ialah di Kabupaten Ngawi serta Magetan, Jawa Timur, dan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Gunung setinggi 3. 265 m di atas permukaan laut( mdpl) itu berstatus pasif. Tidak terdapat kegiatan vulkanik yang mencolok sehingga kawasan di dekat gunung sangat aman dijadikan tujuan wisata ataupun petualangan alam, semacam dilansir dari halaman formal Indonesia.

Cerita- cerita masa kemudian berkenaan dengan Gunung Lawu terus menjadi menguatkan opsi buat mendaki, ataupun semata- mata melancong di kawasan sekitarnya. Terlebih pendakian ke Gunung Lawu pula telah mulai dibuka di masa wajar baru.

Berikut ini sejarah tentang Gunung Lawu yang menarik disimak serta masih tidak sering dikenal orang:

Diperkirakan terakhir kali Gunung Lawu meletus di akhir abad 18 ataupun dekat tahun 1835. Walaupun demikian di puncak Lawu masih nampak kegiatan vulkanik yang nampak dari timbulnya uap air serta belerang.

Di lereng Gunung Lawu bagian timur, tepatnya di ketinggian 1200 mdpl terdapat objek wisata terkenal Telaga Sarangan. Jarak yang wajib tempuh turis buat hingga ke objek wisata ini ialah 16 km ataupun memerlukan waktu tempuh dekat 30 menit dari pusat Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Semacam gunung- gunung lain di Indonesia yang diselimuti mitos- mitos tradisional ataupun cerita turun- temurun. Konon, menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit( 1400 Meter), Brawijaya V ataupun Raja Majapahit terakhir mengasingkan diri ke gunung Lawu bersama pengikutnya yang bernama Sabdo Palon.

Hati raja Majapahit masygul kala putranya Raden Fatah tidak ingin melanjutkan pemerintahan Majapahit. Kebalikannya, si Pangeran malah mendirikan kerajaan Islam di Demak.

Raja Brawijaya V sendiri ialah penganut agama Budha. Dikala meminang Dara Petak( bunda Raden Fatah) alias gadis Raja Campa, Raja Brawijaya V melaporkan masuk Islam selaku ketentuan menikah. Belum lama nyatanya Prabu Brawijaya V tidak sepenuh hati masuk Islam. Dia jadi mualaf sekedar sebab mau menikahi gadis Raja Campa.

Sesuatu hari Raja Brawijaya sangat pilu sebab mempunyai uraian yang berbeda dengan keluarganya. Di satu malam, si raja bermeditasi meminta petunjuk pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam semedinya dia malah memperoleh petunjuk bila kerajaan Majapahit hendak pudar kejayaannya.

Prabu Brawijaya V memutuskan mundur dari keramaian dunia. Dia berangkat menyepi ke puncak Lawu bersama abdi setianya Ki Sabdo Palon. Dikala terletak di puncak Lawu mereka berjumpa dengan 2 kepala dusun yang pula abdi dalem setia kerajaan, ialah Dipa Menggala serta Wangsa Menggala. 2 orang itu tidak tega membiarkan tuannya berangkat bersama ke puncak Lawu.

Posisi pertapaan Brawijaya V ataupun Bhre Kertabhumi itu saat ini diketahui selaku puncak“ Hargo Dalem.” Sebaliknya Ki Sabdo Palon si abdi setia kesimpulannya meninggalkan tuannya, mengambil posisi pertapaan di“ Hargo Dumiling.”

Si Raja setelah itu mengangkut Dipa Menggala selaku penguasa Gunung Lawu sebab kesetiannya. Dia diberi kekuasaan buat membawahi seluruh makhluk gaib. Mulai yang terdapat di barat hingga gunung Merbabu, dari timur hingga ke Gunung Wilis, dari selatan hingga ke Tepi laut Selatan, dan dari Utara hingga ke Tepi laut Utara.

Abdi dalem ini setelah itu diberi gelar“ Sunan Gunung Lawu.” Sementara

Wangsa Menggala ataupun abdi dalem yang lain dinaikan jadi patih serta diberi gelar“ Kiai Jalak.”

Hingga saat ini, mitos tentang Sunan Gunung Lawu serta Kyai Jalak masih terkenal di golongan wisatawan serta pendaki Gunung Lawu. Sebagian pendaki Lawu dikabarkan sempat berjumpa dengan“ Kiai Jalak” dengan rupa burung jalak dikala mereka mendaki ke puncak“ Hargo Dalem”.

Para pendaki meyakini burung itu bernazar baik ialah mau berikan petunjuk jalur biar mereka tidak tersesat. Tetapi, berbeda bila pendaki yang tiba mempunyai perangai kurang baik. Pertemuan dengan burung jalak yang diyakini selaku Kiai Jalak hendak mendatangkan malapetaka.

Gunung Lawu sangat gampang diakses, baik dari Jawa Timur melalui Kabupaten Ngawi serta Magetan ataupun lewat Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Tidak hanya keelokan Gunung Lawu, panorama alam kawasan lereng pula tidak kalah menarik buat dijelajahi. Di lereng bagian barat misalnya terdapat Tawang Mangu, di mana di kawasan ini terdapat wisata air yang populer ialah Grojogan Sewu.

Tawang Mangu sangat gampang dijangkau dari Kota Solo, Jawa Tengah. Dari kota kelahiran Presiden Jokowi, turis cuma memerlukan waktu tempuh 1 jam ekspedisi dengan jarak dekat 40 km.

Obyek wisata kesukaan di lereng bagian barat Gunung Lawu merupakan“ Tawang Mangu” dengan ketinggian 1200 m dpl. Di posisi tersebut ada wisata air populer ialah“ Grojogan Sewu”. Jarak Tawang Mangu dari kota terdekat ialah Kota Solo dekat 40 Kilometer bisa ditempuh dekat 1 jam ekspedisi.

Lereng Gunung Lawu menaruh banyak pesona indah yang sesuai dijadikan tujuan wisata keluarga. Salah satunya Grojogan Sewu di Tawang Mangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Bagi cerita nama Grojogan Sewu diambil dari“ Seribu Pecak” ataupun satuan pengukur jarak pada era dahulu. Satu“ pecak” setara dengan satu telapak kaki orang berusia sehingga apabila dimensi ini diterapkan pada ketinggian air terjun hasilnya ribuan“ pecak”.

Lanskap alam Grojongan Sewu seragam dengan lukisan klasik. Air mengalir deras dari ketinggian 81 m di antara bilik bebatuan. Tumpahan air membentuk genangan air di bawahnya. Umumnya turis berkerumunan di dasar pancuran ini buat bermain air ataupun mengabadikan momen dengan difoto.

Grojogan Sewu tidak lepas dari bermacam mitos. Salah satunya terpaut ikatan asmara. Konon, apabila sejoli pacar yang belum menikah bersama- sama mendatangi objek wisata ini, ikatan mereka dipercaya tidak langgeng ataupun putus sepulangnya dari air terjun ini.

Sebagian warga masih mempercayai mitos tersebut. Tetapi, tidak sedikit pula yang penasaran serta berupaya meyakinkan kebenarannya dengan metode berkunjung ke Grojogan Sewu bersama si pacar.

Salah satu jalan pendakian ke Gunung Lawu ialah Cemoro Sewu yang terletak di antara Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah serta Kabupaten Magetan Jawa Timur. Kawasan ini dinamakan Cemoro Sewu sebab di situ turis dapat menjumpai deretan panjang tumbuhan cemara.

Kawasan ini terletak pada ketinggian 1600 mdpl. Tidak heran apabila temperatur udaranya sangat dingin, rata- rata 15 derajat celsius. Temperatur hawa dapat berganti kilat tiap dikala, terlebih di masa penghujan.

Masyarakat Kota Solo serta dekat tidak asing dengan nama Astana Mangadeg. Di tempat ini disemayamkan jasad pendiri Keraton Mangkunegaran ataupun Mangkunegara I yang populer dengan istilah Pangeran Sambernyawa.

Tempat ini terletak di atas bukit setinggi 750 mdpl. Bukit paling tinggi di antara deretan bukit di gunung Lawu. Posisi tepatnya terletak di Kecamatan Metesih, Kabupatan Karanganyar, Jawa Tengah.

Di sebelah lingkungan pemakaman Mangkunegara I terletak lingkungan pemakaman keluarga Presiden RI kedua, Soeharto. Lingkungan pemakaman ini dinamai Astana Giribangun yang besar perbukitannya sedikit di dasar Mangadeg.

Tiap bertepatan pada 1 Muharam ataupun 1 Suro dalam penanggalan Jawa, banyak wisatawan yang menghadiri Astana Mangadeg. Mereka berziarah ataupun mencari berkah.

Masih banyak warga yang menyangka makam Mangkunegara I yang bernama kecil Raden Mas Said itu bertuah. Sanggup membagikan pemecahan perkara hidup semacam permasalahan rezeki, jodoh, peningkatan pangkat/ jabatan.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Hubungi Kami

Location

Jl. Bri Radio Dalam No.17, RT.14/RW.3, Gandaria Utara, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12140

Contact Us

Email : halo@palatika.or.id